Friday, 27 May 2016

Kilang Minyak Pertamina Baik Dalam Negeri dan Luar negeri

Pertamina

Kilang Minyak Dalam Negeri:

6 Kilang Minyak Pertamina di Indonesia:


Peta Lokasi Kilang-Kilang Milik Pertamina
Peta Lokasi Kilang-Kilang Milik Pertamina
           Lalu, di mana sajakah kilang-kilang milik Pertamina yang mengolah minyak mentah dari perut bumi Indonesia? Berikut rincian yang dapat dikumpulkan oleh penulis.


1. UP-II Dumai (Riau)
Refinery Unit II Dumai
Refinery Unit II Dumai

        Disebut UP karena merupakan singkatan dari Unit Produksi, sedangkan disebut RU karena singkatan dari Refinery Unit. UP-II Dumai ini terletak di propinsi Riau dan dioperasikan sejak tahun 1971. Dengan kapasitas mencapai 170.000 BPSD (barrel per stream day), UP-II Dumai memasok 15,82% total produksi dalam negeri. Berbagai produk hasil pengolahan minyak mentah dari unit Dumai sudah banyak dinikmati masyarakat Indonesia dan manca negara. Hasil pengolahan UP-II Dumai antara lain:

        A. BBM dan BBK yaitu :
            1. Aviation Turbine Fuel
            2. Minyak Bakar
            3. Minyak Diesel
            4. Minyak Solar
            5. Minyak Tanah

      B. Non BBM yaitu :
            1. Solvent
            2. Green Coke
            3. Liquid Petroleum Gas


2. UP-III Musi (Plaju dan Sungai Gerong)
Refinery Unit III Plaju
Refinery Unit III Plaju
        UP-III Musi berlokasi di Sumatera Selatan di dua wilayah yaitu Plaju dan Sungai Gerong. Sejarah panjang kilang ini diawali sejak tahun 1885 saat ditemukannya sumur minyak di Telaga Tunggal. Tahun 1903, Shell, perusahaan minyak milik Belanda mendirikan kilang di Plaju. Dua puluh tiga tahun berselang, Stanvac dari USA mendirikan kilang Sungai Gerong.
            Kepemilikkan kilang Plaju berpindah tangan ke pemerintah Indonesia sejak tahun 1965 saat Pertamina membelinya dari Shell. Tak lama kemudian, tahun 1970 Pertamina membeli kilang Sungai Gerong dari tangan Stanvac. Integrasi kedua kilang ini dilakukan pada tahun 1972.
              Saat ini UP-III Musi memiliki kapasitas 133.700 BPSD (12.45% total produksi dalam negeri) dengan berbagai produk antara lain :
        A. BBM yaitu :
            1. Avtur
            2. Premium
            3. Kerosene
            4. Pertamax Racing Fuel
            5. Automotive Diesel Oil (ADO)
            6. Industrial Diesel Oil (IDO)

       B. Non-BBM yaitu :
            1. Liquid Petroleum Gas
            2. Musi Cool (Refrigerant)
            3. Low Sulphur Waxy Residu (LSWR)
            4. Bijih Plastik Polytham (polyprophylene)

3. UP-IV Cilacap
Refinery Unit IV Cilacap
Refinery Unit IV Cilacap
      UP-IV Cilacap berlokasi di Jawa Tengah bagian selatan merupakan satu dari dua kilang Pertamina yang berlokasi di pulau Jawa. Kilang ini merupakan unit dengan produksi paling besar diantara kilang yang lain sekaligus menghasilkan produk turunan dengan jenis terbanyak dibanding kilang yang lain. Dengan kapasitas produksi mencapai 348.000 BPSD, UP-IV Cilacap sangat bernilai strategis karena memasok 34% kebutuhan bahan bakar nasional atau 60% kebutuhan bahan bakar di pulau Jawa. Kilang ini juga merupakan satu-satunya kilang yang memproduksi aspal dan base oil untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur di tanah air.
         UP-IV Cilacap memiliki tiga kilang untuk memproduksi masing-masing demand dari konsumen. Tiga kilang tersebut adalah:

         I. Kilang Minyak I
            Pembangunan kilang minyak I dimulai pada tahun 1974 dengan kapasitas mula-mula 100.000 BPSD dan resmi beroperasi pada tanggal 24 Agustus 1976. Merespon tingginya permintaan konsumen, kilang minyak I meningkatkan produksinya melalui debottlenecking project pada tahun 1998/1999. Kilang minyak I akhirnya mampu berproduksi 18% lebih banyak dari kapasitas awalnya. Sebanyak 118.000 BPSD dihasilkan dari kilang minyak I.
             Kilang minyak ini didesain secara khusus untuk memproses bahan baku minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Mengapa dirancang untuk mengolah crude oil dari Timur Tengah? Karena selain untuk mendapatkan produk jadi berupa BBM, kilang minyak I diharapkan mampu menghasilkan bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal mengingat karakter minyak mentah dalam negeri tidak cukup ekonomis untuk produksi tersebut.

         II. Kilang Minyak II
             Pada tahun 1981, kilang minyak II dibangun untuk menjawab meningkatnya konsumsi bahan bakar dalam negeri. Peresmian kilang minyak II dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 1983 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 BPSD. Bersamaan dengan debottlenecking project kilang minyak I, proyek yang sama di tahun yang sama juga dilakukan untuk kilang minyak II. Peningkatan kapasitas sebesar 15% menjadi 230.000 BPSD berhasil dilakukan pada kilang minyak II. Kilang minyak II mengolah minyak "cocktail" yaitu campuran minyak mentah dari dalam negeri dan luar negeri.

         III. Kilang Paraxylene
             Kilang ini dibangun pada tahun 1988 dan resmi beroperasi tanggal 20 Desember 1990. Kilang ini menghasilkan produk NBM dan Petrokimia. Kilang ini dibangun karena mempertimbangkan hal-hal seperti tersedianya bahan baku yang cukup berupa Neptha dari kilang minyak II, adanya sarana pendukung berupa dermaga tangki dan utilitas, serta potensi pasar yang menjanjikan baik dari dalam maupun luar negeri.

            Varian produk yang dihasilkan oleh UP-IV Cilacap antara lain:
            1. Aspal
            2. Heavy Aromate
            3. Lube Base Oil
            4. Low Sulphur Waxy Residu
            5. Minarex
            6. Paraffinic Oil
            7. Paraxylene
            8. Slack Wax
            9. Toluene


4. UP-V Balikpapan
Refinery Unit V Balikpapan
Refinery Unit V Balikpapan
        Balikpapan, kota pantai dengan kontur bukit di Kalimantan Timur ini dikenal sebagai salah satu kota minyak di Indonesia. Terkenal dengan Blok Mahakam yang dioperasikan oleh Total Indonesie dari Perancis, di kota ini juga dibangun fasilitas pengolahan minyak mentah yang dikenal dengan UP-V Balikpapan.
      UP-V Balikpapan didirikan di teluk Balikpapan dengan luas area 2,5 KM2 dengan kapasitas produksi mencapai 253.600 BPSD. UP-V memiliki dua kilang yaitu kilang Balikpapan I dan kilang Balikpapan II. Kilang Balikpapan I sudah dibangun sejak tahun 1922 oleh British Petroleum menindaklanjuti temuan sumur minyak di Sanga-sanga tahun 1897. Kilang Balikpapan II mulai dibangun pada tahun 1981 dan mulai beroperasi tanggal 1 November 1984.


5. UP-VI Balongan
Refinery Unit VI Balongan
Refinery Unit VI Balongan
      UP-VI Balongan dibangun pada tanggal 1 September 1990 yang awalnya dinamakan proyek EXOR (Export Oriented Refinery) dan mulai beroperasi pada bulan Agustus 1994. Kapasitas kilang ini mencapai 125.000 BPSD. Kilang UP-VI Balongan mendapat bahan baku minyak mentah dari Duri, Riau sebesar 60% dan Minas Dumai 40%. Selain itu juga menggunakan gas alam (LNG) sebesar 18 mmscfd untuk proses produksi yang diperoleh dari Daerah Operasi Hilir (DOH) Jawa bagian Barat lapangan Karangampel, Indramayu.
        Sejak tahun 1970 minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini. Sebanyak 224 sumur berhasil digali dan berproduksi antara lain sumur Jatibarang, Cemara, Kandang Haur Barat, Kandang Haur Timur, Tugu Barat, dan Lepas Pantai. Ada tiga pemasok bahan baku kilang VI Balongan ini antara lain minyak mentah Duri (Riau), minyak mentah Minas (Dumai), dan gas alam dari Jawa Barat bagian Timur sebesar 18 million metric standard cubic feet per day (mmscfd).

    Produk dari kilang VI Balongan sampai saat ini adalah bahan bakar mesin jenis Premium, Pertamax, Pertamax Dex, Pertamax Plus, Solar, Kerosene (Minyak Tanah), LPG, dan Propylene.

6. UP-VII Kasim
Refinery Unit VII Kasim
Refinery Unit VII Kasim
        Unit pengolahan ini berlokasi di wilayah timur Indonesia, tepatnya di desa Malabam, kecamatan Seget, kabupaten Sorong, Papua. Unit ini tepat bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) milik Petrochina, 90 kilometer selatan kota Sorong.
        Kilang Kasim yang berkapasitas produksi sebesar 10.000 barel/hari mendapat pasokan bahan baku berupa crude Walio (60%) dan Salawati (40%) dan menghasilkan produk antara lainfuel gas (969 barel/hari), Premium (1.987 barel/hari), Kerosene (1.831 barel/hari), Solar (2.439 barel/hari), dan residu sebanyak 3.390 barel/hari.

Sumber: Kilang Minyak Dalam Negeri

Kilang Minyak Luar Negeri:


PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina International EP (PIEP)
 mengembangkan lapangan migas di luar negeri. Berapa produksinya?

Presiden Direktur PIEP, Slamet Riadhy menuturkan, perusahaan memiliki lapangan migas di luar negeri yang bisa memasok kebutuhan minyak mentah untuk Indonesia. Sejauh ini, PIEP mengoperasikan tiga lapangan migas di luar negeri dengan besaran Participating Interest (PI) yang berbeda-beda.


"PIEP beroperasi di tiga negara yaitu Aljazair, Irak, dan Malaysia," kata Slamet di Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Slamet bilang, produksi migas dari 3 lapangan yang dikuasai Pertamina memiliki besaran yang berbeda-beda. Semisal, produksi minyak mentah di Aljazair, tahun ini, mencapai 39 ribu setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). "Di Irak produksi di tahun ini 36,3 ribu boepd, dan di Malaysia 34.800 boepd," ucap Slamet.
Akuisisi lapangan migas di luar negeri, kata Slamet, berangkat dari tren konsumsi BBM di Indonesia yang mengalami kenaikan tajam. Diperkirakan, tahun 2025, produksi minyak mentah hanya sebesar 600 ribu barel per hari (bph). Sementara, kebutuhan di tahun itu, bisa mencapai 2 juta bph.
"Kita nanti banyak impor. Begitupun dengan gas. Ini menjadi bagian perusahaan untuk mengembangkan kegiatan hulu guna kepentingan dalam negeri," kata Slamet. 

6 comments:

Silahkan berkomentar pada blog ini, Dilarang meninggalkan link aktif, komentar yang mengandung SARA, PORNOGRAFI maupun ujaran KEBENCIAN. Salam Blogger :)